Terangsaja, Sa'ad merasa tidak pantas, tangannya yang kasar, kotor, berdebu dn berpeluh keringat itu dicium oleh seorang Nabi dan Rasul yang mulia. a'ad berusaha menariknya. Namun, Rasulullah menariknya, "Biarkan wahai Sa'ad, biarkan tangan ini nanti yang akan membawamu ke surga!" ujar Rasulullah tersenyum. Sa'ad menangis tersedu. Ia terenyuh.
KepadaRepublika Online, Ahmad mengatakan Allah SWT mengatur segala urusan kehidupan dunia. "Allah mengatur apa saja sampai hal-hal terkecil," kata Ahmad, kepada Republika, Selasa (23/6). Pakar hadis ini lantas menyitir surah Al Zalzalah ayat 7-8 yang menyebut bahwa Allah akan membalas setiap kebaikan dan keburukan walau sebutir zarrah.
Matius7:7-8. "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.". Allah adalah Bapa kita yang sangat baik.
BiarkanAllah yang Memilih. By Admin KMM On Nov 23, 2019. 0 384. Share.
1688. source Assalamualaikum, Ketika tema masa kecil disuguhkan oleh Mbak Nia Nurdiansyah dan Mbak Anjar Sundari untuk diceritakan dalam arisan kali ini, saya harus memutar memori lumayan keras karena bagi saya, masa kanak-kanak saya tak begitu membahagiakan. Banyak hal yang kemudian saya lupakan karena dalam alam bawah sadar saya tak menginginkan hal-hal buruk kembali dalam ingatan. Mungkin saja, hal ini salah satu pertahanan saya untuk bisa survive di masa itu. Bagi sebagian orang, hal itu mungkin bukan satu hal yang besar. Urusan anak-anak. Namun ketika anak-anak mengalami dan terluka, tak pernah disadari oleh orang dewasa sekalipun bahwa hal buruk yang dirasakan ternyata mengendap. Saat saya bercerita pada suami, saya disarankan untuk menuliskan yang saya rasakan untuk katarsis supaya perasaan negatif dalam hati tersalurkan. Waktu itu saya tak mau. Saya tak ingin ingatan tentang hal buruk hadir dan membuat luka lama terkuak. Namun sejujurnya saya ingin menuliskan hal itu untuk healing saya dari rasa sakit. Mungkin, ini adalah saatnya. Saya merasakan apa yang saat ini dinamakan bullying di masa kanak-kanak saya. Tak cuma satu orang, namun beberapa orang. Saya sudah biasa dikucilkan teman perempuan, tanpa saya tahu apa sebabnya. Ingin ikut bermain bersama teman, tak diperbolehkan. Bahkan saya ajak ngomong pun mereka menulikan telinga, tetap bermain sambil cekikikan, saling berbisik di telinga. Mata mereka melirik ke arah saya dengan tatapan yang saat itu saya sendiri tak tahu bagaimana mendefinisikan. Satu titik dimana saya kemudian mencoba bertahan tanpa menangis ketika salah satu teman laki-laki memberikan hadiah pada saya. Ketika saya sejenak pergi dari bangku, barang itu sudah raib. Barang itu sudah menjadi milik teman-teman perempuan sampai tak bersisa. Saya tak bisa berkata-kata. Namun hati saya saat itu berbisik. Ini terakhir kali saya terluka. Saya jadi membenci kaum saya sendiri. Saya ralat. Saya benci teman perempuan. Saya pun lantas lebih banyak bermain dengan teman laki-laki. Sampai belajar kelompok pun, saya memilih dengan teman laki-laki. Menurut saya, teman laki-laki lebih asyik. Lebih menyenangkan. Tak ada yang mengucilkan. Mereka tak mengistimewakan saya karena saya perempuan. Semua sama. Hal itu ternyata menyamankan saya. Semuanya melekat di benak saya. Sampai saya dewasa pun teman perempuan hanya bisa di hitung dengan jari tangan. Saya takut untuk memulai berteman dengan perempuan. Untuk bersahabat dengan teman perempuan saya sangat memilih. Saya kesulitan dekat dengan teman perempuan. Jangankan untuk curhat, main bareng pun saya sangat jarang. Pasti saya melibatkan teman laki-laki jika ada urusan dengan teman perempuan. Sesungguhnya, dalam hati kecil, saya ingin bisa berteman dengan mudah dengan kaum saya. Namun dalam diri saya seperti ada barikade tersendiri ketika ada perempuan yang punya niat baik berteman dengan saya. Saya ragu, apakah saya bisa diterima. Apakah saya bisa menjadi teman yang baik untuk mereka? Apakah mereka tulus tanpa ada tendensi apapun? Mau tahu bagaimana saya membuka diri? Sejujurnya, saya harus berterima kasih pada teman-teman IIDN Semarang. Merekalah yang membuat saya percaya bahwa masih banyak perempuan yang hadir dengan ketulusan tanpa memandang siapa diri saya. Saya masih ingat pertama kali kopdar di rumah Dik Aan, saya merasa minder sangat. Penulis-penulis keren ngumpul di sana. Mba Dedew yang masih hamil besar dengan ramah menegur saya, Mbak Dian Kristiani yang ceplas ceplos. Langsung ketawa lepas sama Mb Archa. Mbak Dian Nafi yang humble, Mba Wati yang murah senyum. Ah ... Segala perasaan negatif yang saya takutkan perlahan memuai. Pas balik saya bareng Wuri yang kalemnya kelewatan. Saat itu sama-sama newbie di IIDN Semarang, jadi merasa senasib sepenanggungan hahaha ... Memaafkan memang menjadi hal terpenting saat kita merasakan luka. Keikhlasan untuk melepaskan supaya kekecewaan dan kemarahan tak lagi menjadi duri dalam hati menjadi sesuatu paling berat. Namun bukan berarti itu tak bisa dilakukan. Dan memang, semuanya terasa lebih ringan saat kita berdamai dengan rasa sakit. Kita yang berusaha, dan biarkan tangan Tuhan yang bekerja. Tuhan Maha Pembolak balik hati manusia.
Q. S. Al-Fath ayat 10, yang artinya, “Tangan Allah di atas tangan mereka,” Ini benaran ayat suci lho! Tidak perlu diragukan lagi sebagai bagian dari Al-Qur’an, meski sekilas membacanya orang akan bertanya-tanya. Apakah Tuhan punya tangan? Namun ini kan membingungkan karena Tuhan berlainan dengan wujud ciptaan-Nya. Sebab Allah memiliki sifat mukhalafatu lil hawaditsi berbeda dengan makhluk. Akhirnya, bermuaralah pada pertanyaan, apa urgensinya ayat tangan Tuhan ini dalam kehidupan manusia? Inilah pentingnya ilmu tafsir! Al-Qur’an merupakan kalamullah yang amat spektakuler maknanya dan butuh kedalaman ilmu dalam mencernanya. Ilmu tafsir yang akan menjawab segenap tanya yang muncul, dan melegakan berbagai ragu yang berserak. Terlebih dahulu, mari disimak versi lengkap dari surat Al-Fath ayat 10 ini, agar memperoleh pemahaman yang utuh. Berikut terjemahannya “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepadamu Muhammad, sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas janji sendiri; dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Dia akan memberinya pahala yang besar.” Mula-mula kejadiannya begini, Nabi Muhammad dan sekitar kaum muslimin yang hendak berziarah ke Ka’bah tertahan di Hudaibiyah, gara-gara manuver musyrikin Quraisy yang menghalangi. Kemudian Rasul mengutus Usman bin Affan ke Mekkah bernegosiasi dengan pihak Quraisy. Telah lama menunggu tapi Usman tak kunjung kembali, bahkan tersiar kabar Usman bin Affan telah dibunuh. Kabar itu malah membuat kaum muslimin makin membaja imannya, dengan berjanji setia untuk membela agama Allah. Dan tentunya akan membela darah Usman sekiranya benar dibunuh. Janji setia dalam ketaatan itulah yang dikenal dengan peristiwa Baitur Ridhwan. Imam As-Suyuthi dalam buku Tarikh Khulafa menyebutkan, tatkala Rasulullah memerintahkan untuk melakukan Baitur Ridhwan, Usman saat itu adalah utusan Rasulullah yang dia utus kepada penduduk Mekkah. Para sahabat berbaiat kepada Rasulullah. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Usman bin Affan sedang melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian beliau menempelkan tangannya kepada yang lain sebagai pertanda bahwa tangan yang satu adalah simbol sebagai tangan Usman. Kemudian Usman bin Affan kembali dengan selamat, tapi baiat itu menjadi sejarah penting di mana umat Islam bersatu padu dalam ikrar setia membela agama Allah. Lha, apa hubungannya Baitur Ridhwan dengan yadullah atau tangan Allah? Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menerangkan, bahwa orang yang berjanji setia biasanya berjabatan tangan. Caranya berjanji setia dengan Rasul adalah dengan meletakkan tangan Rasul di atas tangan orang yang berjanji tersebut. Maka, yang dimaksud dengan tangan Allah di atas tangan mereka adalah menegaskan ketika berjanji dengan Rasul sama dengan berjanji dengan Allah. Seolah tangan Allah yang di atas dari tangan mereka yang berjanji setia. Dari itu perlu dicermati, Allah Maha suci dari sifat-sifat yang menyerupai makluk-Nya. Syahadat kita adalah janji setia kita pada Allah dan Rasulullah. Meski dalam syahadat ini kita tidak berjabat tangan langsung dengan Rasul, akan tetapi ada tangan Allah yang menyertai tangan kita. Apa urgensi ayat tentang tangan Allah ini? Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat tajassum antropomorfisme yang menggambarkan seolah-olah Allah punya tubuh dan anggota badan sebagaimana manusia, salah satunya pada ayat yang tengah kita bahas ini. Para ulama memandangnya sebagai majasi atau makna kiasan, bukan berarti Tuhan punya seperti anggota tubuh macam manusia. dalam buku Rasyid Ridha Konsep Teologi Rasional Dalam Tafsir Al-Manar menerangkan, bahwa cara menakwilkan semua ayat antropomorfisme dengan arti majasi yang biasa dipakai dalam bahasa Arab. Misalnya, kata wajah Allah kadang-kadang ditakwilkan dengan zat Allah dan kadang-kadang ditakwilkan dengan keridaan-Nya sesuai dengan siyaq al-kalam konteks kalimat, mata ditakwilkan dengan pengetahuan atau pengawasan, tangan ditakwilkan dengan kekuasaan. Penafsiran tidak berhenti sampai di sini saja, M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menyebutkan, bahwa tangan Allah, yakni kekuasaan, kekuatan dan anugerah-Nya. Dia yang menyertai dan membantu yang berjanji itu. Logikanya dapat kita cerna, tangan memang sumber kekuatan, banyak hal yang bisa diperbuat oleh dua tangan yang tak tergantikan oleh anggota tubuh lainnya. Tangan memang kuat, bukan hanya perkara energi tetapi juga manfaat yang dihasilkannya. Dalam hidup ini, baik itu bekerja, belajar, berkegiatan dan sebagainya hendaklah kita mengandalkan semangat tangan Tuhan alias kekuatan Allah. Tangan manusia ini teramat lemah untuk memikul beratnya tanggung jawab, dan insyallah segalanya menjadi ringan jika kekuatan Ilahi yang menyertai tangan kita.
Biarkan Tangan Tuhan yang Bekerja merupakan judul puisi karya Khoirul Triann yang dibacakan olehnya di Kanal Youtube Catatan Khoirul Triann. Berikut teks puisinya jauh-jauh mencari ketenangan sepertinya yang kamu butuhkan saat ini hanya perlu berdamai dengan kenangan sesulit-sulitnya buat sembuh rasanya pulang ke rumah sendiri adalah jawaban dari semua obatnyabukan rumah yang itu tapi rumah yang isinya Hanya kamu dan dirimu sendiri yang paham tentang bagaimana caranya merelakan dan melepaskan yang kadang tidak harus diikhlaskan kamu bohong kalau misalnya kamu bilang sudah ikhlas seseorang yang sudah benar-benar menerima lukanya tidak akan pernah membahas lukanya lagi kepada siapapun jadi kamu kalau masih suka mengeluh, suka menyesali yang sudah-sudah Bahkan suka menceritakannya lagi kepada orang baru tandanya kamu masih belum ikhlas, tandanya kamu masih belum bisa berdamai mungkin kalau tidak dijatuhkan dulu kamu akan selamanya lupa bahwa ini cuma dunia ini cuma hidup yang skenarionya sudah diatur sama Tuhan kita hanya memerankan tidak berhak menyalahkan kadang memang ketika kita meminta bahagia Tuhan justru beri Kita Luka agar ketika bahagianya beneran datang kita tahu bagaimana maknanya dan cara mensyukurinya Tuhan baik tahu cuma kadang kita yang jarang paham bahwa Tuhan itu baik sesekali coba lihat dirimu berapa kali Patah Hati yang padahal Tuhan sudah jelas-jelas memintamu buat jangan terlalu berharap dengan manusia jangan mengharapkan kebaikan dari manusia karena kadang Tuhan cemburu sama kita Soalnya kalau kita menangis yang kita cari bukan Tuhan tapi malah manusia lain yang padahal manusia di bumi tidak ada yang benar-benar peduli kadang mereka hanya ingin tahu tidak sepenuhnya benar ingin membantu sia-sia kita jadi manusia baik kalau kita tidak pernah punya hubungan baik dengan Tuhan sia-sia kita berdoa Kalau kita masih Selalu ragu dengan keputusan Tuhan sekali lagi jangan cari bahagia tapi Carilah ketenangan yang dimana kamu bisa mensyukuri hidup untuk satu hari lagi di bumi sesederhana, Masih diberi nafas saja itu sudah luar biasa berhenti menggantungkan diri pada manusia mulailah menceritakan apa-apa yang membuatmu lelah kepada Tuhan Siapa tahu Tuhan bisa bantu Bukankah masalahmu itu hanya sebagian kecil dari kehendak Tuhan yang tidak mungkin tidak ada jalan keluarnya kamu hanya perlu menjadi manusia baik maka semuanya akan tenang kamu hanya perlu sabar dan sekarang biarkan tangan Tuhan yang bekerjaJogja, 6 Januari 2023***Demikian Teks Puisi Khoirul Triann Biarkan Tangan Tuhan yang Bekerja. Catatan PenutupTerima kasih telah berkunjung ke website Sampah kopi pahit... Share This